Berita

Munas NU 1983 di Sukorejo: Tonggak Sejarah Hubungan Islam dan Pancasila

×

Munas NU 1983 di Sukorejo: Tonggak Sejarah Hubungan Islam dan Pancasila

Sebarkan artikel ini

SITUBONDO , Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, kembali dikenang sebagai saksi lahirnya salah satu keputusan paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1983, para ulama dan kiai sepuh berhasil merumuskan deklarasi penting mengenai hubungan antara Islam dan Pancasila yang hingga kini menjadi rujukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Munas yang berlangsung pada 18–21 Desember 1983 di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tersebut dipimpin oleh para ulama NU dan menjadi momentum strategis menjelang Muktamar ke-27 NU tahun 1984. Dalam forum bersejarah itu, para kiai yang dipelopori oleh tokoh-tokoh besar NU, termasuk KHR. As’ad Syamsul Arifin dan KH Ahmad Siddiq, merumuskan pandangan keagamaan yang menegaskan bahwa Pancasila bukanlah agama dan tidak menggantikan agama, namun sejalan dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara.

Keputusan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah NU. Selain mempertegas hubungan harmonis antara Islam dan Pancasila, Munas 1983 juga melahirkan gagasan pemulihan Khittah NU 1926 yang kemudian menjadi arah perjuangan organisasi dalam bidang keagamaan, sosial, pendidikan, dan kebangsaan.

Dalam deklarasi yang dihasilkan Munas tersebut, para ulama menegaskan bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan bagian dari ikhtiar umat Islam Indonesia dalam menjalankan ajaran agamanya secara utuh di tengah masyarakat yang majemuk. Sikap tersebut sekaligus menunjukkan komitmen NU dalam menjaga persatuan bangsa, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta kerukunan antarumat beragama.

Menjelang pelaksanaan Munas NU 2026, semangat kebangsaan dan keislaman yang diwariskan para ulama pendahulu diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, menyampaikan harapannya agar NU dan pesantren terus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
“Semoga Nahdlatul Ulama dan seluruh pesantren di Indonesia senantiasa menjadi pilar pemersatu umat, menjaga nilai-nilai kebangsaan, serta terus memberikan sumbangsih dan maslahat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Semoga pelaksanaan Munas NU 2026 berjalan lancar, sukses, dan mendapatkan ridha Allah SWT,” ujarnya.

Baca juga:
SMPN 5 Situbondo Tegaskan Visi Sekolah Spektakuler, Siapkan Lulusan Sehat, Kreatif, Takwa dan Berkarakter

Warisan pemikiran para kiai dalam Munas NU 1983 di Sukorejo tidak hanya menjadi bagian dari sejarah organisasi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam memperkuat harmoni antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kehidupan demokrasi di Indonesia hingga saat ini.