Situbondo, Brantasnews.id , 8 April 2026 SMA Negeri 1 Panji terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah secara psikologis. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Penanganan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) yang digelar pada Rabu (8/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Puskesmas Panji, yakni Eka Agustin Fitria, A.Md. Kep., dan diikuti oleh seluruh wali kelas sebagai garda terdepan dalam interaksi langsung dengan siswa di lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, Eka Agustin Fitria menjelaskan bahwa P3LP (Psychological First Aid) merupakan bentuk bantuan awal non-klinis berbasis empati yang bertujuan untuk menstabilkan kondisi psikologis individu, memberikan rasa tenang, serta mencegah dampak trauma yang lebih berat.
P3LP bukan terapi atau konseling, tetapi pertolongan pertama berbasis kepedulian yang bisa dilakukan oleh siapa saja, terutama guru sebagai pihak yang paling dekat dengan siswa di sekolah,” jelasnya.
Ia menegaskan, sekolah merupakan ruang aman kedua setelah rumah, sehingga peran guru sangat vital dalam mendeteksi dini gejala gangguan psikologis pada peserta didik. Intervensi sejak awal dinilai mampu mencegah kondisi yang lebih serius.
Kenali Tanda Luka Psikologis pada Siswa
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman mengenai ciri-ciri siswa yang mengalami luka psikologis, antara lain:
Perilaku: menarik diri, agresif, mudah menangis, atau murung
Akademik: penurunan prestasi secara drastis dan kesulitan berkonsentrasi
Fisik:
keluhan psikosomatis seperti sakit kepala atau perut tanpa sebab medis jelas
Pendekatan 3M: Kunci Penanganan Awal
Metode utama dalam P3LP dirangkum dalam prinsip 3M, yaitu:
Memperhatikan (Look)
mengamati perubahan perilaku, emosi, dan kondisi fisik siswa
Mendengarkan (Listen):
mendengar secara aktif tanpa menghakimi, dengan empati
Menghubungkan (Link):
mengarahkan siswa pada dukungan sosial maupun bantuan profesional
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu memberikan respons cepat dan tepat sebelum kondisi siswa berkembang menjadi lebih serius.
Kepala SMA Negeri 1 Panji menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dari penguatan pendidikan karakter sekaligus kepedulian terhadap kesehatan mental siswa.
Guru adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental siswa di sekolah. Dengan kemampuan dasar seperti P3LP, kita bisa memberikan dampak besar melalui tindakan sederhana yang penuh empati,” ujarnya.
Bangun Sekolah yang Peduli dan Responsif
Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 1 Panji menegaskan komitmennya sebagai sekolah Double Track yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik.
Pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa kepedulian sederhana dapat membawa dampak besar.
“Satu sapaan empati bisa menyelamatkan jiwa.”












